TULUNGAGUNG – Reportaseindonesa.net– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung terus berupaya meningkatkan kualitas tembakau lokal melalui penguatan kapasitas dan keterampilan petani. Upaya ini dilakukan karena mutu tembakau tidak hanya ditentukan oleh varietas yang ditanam, tetapi juga oleh teknik budidaya, perawatan tanaman, hingga penanganan pascapanen yang tepat.
Melalui Dinas Pertanian, Pemkab Tulungagung memanfaatkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun Anggaran 2026 untuk mendukung peningkatan kompetensi petani. Salah satu langkah konkretnya diwujudkan melalui kegiatan bimbingan teknis (bimtek) peningkatan kapasitas kelompok tani tembakau yang berlangsung pada 9–12 September 2026.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan potensi tembakau lokal Tulungagung, termasuk varietas gagang rejeb yang telah diakui Kementerian Pertanian. Selain mendorong peningkatan mutu hasil produksi, program ini diharapkan mampu mempertahankan karakteristik dan cita rasa khas tembakau daerah.
Bimtek tersebut diikuti 25 kelompok tani dari lima kecamatan penghasil tembakau, yakni Sumbergempol, Boyolangu, Campurdarat, Pakel, dan Bandung. Para peserta memperoleh pembekalan mengenai berbagai aspek penting dalam proses produksi tembakau, mulai dari pemilihan benih, pemurnian varietas, teknik budidaya, pemupukan organik, manajemen alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga penanganan pascapanen.

Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung (16/10).
Materi tersebut dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam menerapkan praktik budidaya yang tepat. Dengan demikian, kualitas bahan baku tembakau diharapkan semakin baik, sementara nilai ekonominya dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, M. Maksud Manan, melalui Kepala Bidang Penyuluhan Pertanian, Triwidyo Agus Basuki, menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas petani menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pengembangan tembakau lokal yang berkualitas dan berdaya saing.
Pria yang akrab disapa Okky itu menerangkan, pelatihan tidak hanya berfokus pada teknik budidaya, tetapi juga mencakup pengelolaan sarana pertanian dan penanganan hasil panen agar mutu tembakau tetap terjaga.
“Materi yang diberikan meliputi pemilihan benih, pemurnian varietas, dan pemupukan organik. Selain itu, petani juga mendapatkan pembekalan mengenai manajemen alsintan untuk mengoptimalkan penggunaan alat dan mesin pertanian, serta teknik penanganan pascapanen yang tepat agar mutu dan nilai ekonomi tembakau tetap terjaga,” jelasnya saat memberikan keterangan, Jum’at (16/10/2026).
Menurut Okky, peningkatan keterampilan petani diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap kualitas hasil produksi sekaligus menjaga kekhasan tembakau Tulungagung. Penguasaan teknik budidaya dan penanganan pascapanen yang benar menjadi bagian penting dalam menjaga konsistensi mutu tembakau yang dihasilkan.
Pemkab Tulungagung berharap pemanfaatan DBHCHT melalui program Dinas Pertanian tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan kualitas dan daya saing tembakau lokal, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi para petani.
“Melalui pemanfaatan DBHCHT di Dinas Pertanian, Pemerintah Kabupaten Tulungagung berharap mutu tembakau lokal semakin baik dan tetap memiliki cita rasa khas. Pada akhirnya, kami ingin para petani juga memperoleh kesejahteraan yang lebih baik dari usaha budi daya tembakau,” pungkasnya.
Melalui program peningkatan kapasitas tersebut, Pemkab Tulungagung berupaya memperkuat sektor pertanian tembakau dari hulu hingga hilir. Dengan dukungan pengetahuan, keterampilan, dan penerapan teknik yang tepat, potensi tembakau lokal diharapkan dapat terus berkembang serta memberikan nilai tambah bagi perekonomian petani dan daerah. (AG)
